"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" [Surat Ar-Rahman : 13]

Jumat, 11 Juli 2014

fadilah sholat terawih

Rasulullah SAW bersabda " bulan ramadhan adalah permulaannya rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan penghujungnya adalah bebas dari siksa api neraka". setelah kita melewati awal bulan ramadhan kemarin, maka kita harus tetap istiqomah atau ajeg dalam beribadah kepada Allah SWT. Ingat bahwa yang butuh untuk beribadah adalah kita, kita tidak beribadah atau menyembah Allah, sekali-kali tidak akan mengurangi kebesarannya. Kita berharap dalam sepuluh hari tahap kedua bulan suci ini, kebaikan kita senantiasa meningkat, Aamin. Dalam mengisi Amalan di bulan ramadhan salah satunya adalah mengerjakan sholat berjamah terawih, mengingat fadilah yang amat besar sebagaimana yang dikutip dari kitab Durratun Nasihin yaitu :

  1. malam kesebelas : keluar dari dunia seperti halnya lahir dari rahim ibu
  2. malam keduabelas : di hari kiamat kelak wajahnya seperti bulan purnama
  3. malam ketigabelas : orang tersebut di hari kiamat dalam keadaan aman dan sentosa dari segala perkara yang jelek
  4. malam keempat belas : datang malaikat untuk menyaksikan orang tersebut bahwa sesungguhnya orang itu sudah melaksanakan shalat, amaka Allah tidak akan menghisab besok di hari kiamat.
  5. malam kelimabelas : malaikat hamatul arsy akan memintakan rahmat pada orang tersebut
  6. malam keenambelas : Allah menulis pda orang tersebut bebas selamat dari neraka dan bebas masuk ke dalam surga
  7. malam ke tujuh belas : diberi pahala sama dengan pahalanya para nabi
  8. malam kedelapan belas : malaikat berseru; hai hambanya Allah, sesungguhnya Allah sudah ridho padamu dan kedua orang tuamu
  9. malam kesembilanbelas : Allah meninggikan derajatnya dalam surga firdaus
  10. malam keduapuluh : diberi pahala orang-orang yang mati syahid dan orang shalih

Selasa, 13 Mei 2014

Rajab, Sya'ban dan Romadhon

        Hari ini, setelah menjelajahi toko buku togamas malang. Pacuan motor menerjang keramaian jalan dieng hingga semarang. Ku tuntut diriku dan teman boncengan untuk mempercepat gerak menuju tempat menimba ilmu. Sayang, kami tertinggal sholat berjamaah dhuhur di masjid itu. Sebagai seorang yang sudah tertinggal, bukan akibat kesengajaan, secepat kilat menuju tempat bersuci, ku basuh muka hingga kaki, tak hayal langkah kaki menuju tempat menghadap sang ilahi dengan penuh rasa senang didalam hati. Mengikuti jamaah sholat bagian kedua, sebagai seorang makmum masbuk dua rakaat tertinggal. Dalam wirid terdengar ceramah seorang ustadz yang sangat bijaksana dan halus tutur katanya. Subhanallah.
         Ceramah sang ustadz sungguh sangat menawan dan membuat hati ini sadar. Menatap jauh ke depan, menghadapi bulan penuh rahmat dan tantangan bulan suci umat islam, Ramadhan mubarok. Bagaimana kita menatap dan menghadapinya?. Dalam banyak surau, masjid, dan media terlantun do'a rasulullah untuk bulan rajab, sya'ban dan ramadhan.
          Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Umar dari Za`idah bin Abu Ar Ruqad dari Ziyad An Numairi dari Anas bin Malik, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Rajab, maka beliau mengatakan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“ALLAHUMMA BAARIK LANAA FII ROJAB WA SYA’BAN WA BALLIGHNAA ROMADHAN (Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban, serta perjumpakanlah kami dengan bulan ramadhan)” Beliau bersabda,”Malam jum’at adalah mulia dan harinya terang benderang.”
          Dalam kultum tadi, ustadz mencoba memahami mengapa tiga bulan sekaligus yaitu bulan rajab, sya'ban dan ramadhan?. Ustadz mencoba menghubungkan dengan pemahaman tentang candi borobudur yang memiliki tiga tingkatan: kamadatu, rupadatu dan arupadatu, bukan berarti yang lain. 

         Didalam candi tersebut, istilah kamadatu (masih berhubungan dengan nafsu (seks)), rupadatu (masih memikirkan tentang hal-hal yang berupa materi ; jabatan, uang, dll), sedangkan tingkatan tertinggi yaitu arupadatu tidak memikirkan hal yang berupa, yaitu langsung karena Allah SWT.
        Diharapkan dalam, bulan rajab ini kita belajar untuk menghilangkan hal-hal yang berupa nafsu dengan berbagai cara misalnya: dengan puasa, bersedekah, membaca Al-Qur'an. Selanjutnya di bulan Sya'ban kita berusaha untuk menghilangkan hal-hal yang berwujud misalnya sholat karena jabatan, puasa karena hal lain selain Allah, dll. Dan pada saatnya yaitu Ramadhan kita dapat merasa senang dengan datangnya ramadhan dengan hanya mengharap rahmat dari Allah SWT.
        Semoga bermanfaat. Kebenaran hanya milik Allah SWT